Monday, February 27, 2012

PEMERINTAH DAN KONFLIK DI INDONESIA



Di Indonesia, konflik menjadi sesuatu yang sangat sering sekali terjadi. Maklum sebagai manusia yang mempunyai ideologi yang berbeda-beda pastilah masing-masing pribadi berusaha untuk mewujudkan ideologinya. Usaha manusia itu seringkali menimbulkan ketidaksesuaian dari pribadi lain yang merasa terancam atas usaha orang lain tersebut. Ketidaksesuaian antara kedua individu maupun kelompok tersebut menimbulkan konflik yang pasti berujung pada kerugian di salah satu pihak.Namun, berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah konflik tesebut. Setiap individu pasti pernah mengalami konflik, entah sebagai subjek maupun sebagai objek penderita. Namun, seringkali konflik yang terjadi tidak kita sadari sebagai sebuah kekerasan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kekerasan berarti perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.[1] Konflik dapat mengakibatkan banyak dampak bagi pelaku maupun orang lain. Menjadi sebuah keuntungan bagi pihak yang menang, namun bagi pihak yang kalah, konflik menjadi sebuah malapetaka. Lebih buruknya lagi bila konflik tersebut telah memberikan kerugian yang cukup besar bagi mereka yang tidak bersalah. Tetapi, secara umum, konflik adalah perbuatan yang buruk dan tidak patut untuk dilakukan. Sekalipun pihak yang menang itu merasa bangga atas tindakannya, hal ini tidak menjamin bahwa dirinya secara bersih selamat dari luka fisik maupun psikis.
Konflik di Indonesia telah menjadi makanan sehari-hari yang selalu bisa “dinikmati” oleh masyarakat. Tidak hanya dari lapisan bawah, konflik juga sering terjadi di antara para pemimpin bangsa. Contohnya adalah konflik yang terjadi antara Polisi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terjadi beberapa waktu lalu. Konflik ini telah membuka tabir bahwa di kalangan aparat hukum pun, proses pelanggaran hukum bisa terjadi. Usaha pemerintah untuk meluruskan konflik ini seakan menjadi boomerang sendiri karena dengan terbukanya kasus konflik antara polisi dengan KPK terbukalah kebobrokan yang selama ini terjadi dalam birokrasi pemerintahan Indonesia. 
Belum lama ini, masyarakat juga diserbu kabar dari media massa mengenai konflik kepentingan dalam tubuh partai Demokrat yang berlandaskan masalah korupsi. Tidak hanya partai Demokrat, berbagai konflik juga terjadi dalam pemerintahan secara menyeluruh, baik itu eksekutif, yudikatif, ataupun legislatif.
Konflik di Indonesia juga terjadi dalam elemen masyarakat bawah. Hal ini dikarenakan pandangan masyarakat Indonesia yang masih sempit atas keberadaannya sebagai anggota Negara  yang berbeda ragamnya. Contohnya saja konflik yang terjadi di Poso beberapa tahun yang lalu. Kasus kerusuhan yang terjadi antara kaum muslim dan nasrani ini lebih memperlihatkan ketidakdewasaan masyarakat Indonesia yang terlalu egois dengan kepentingannya sendiri. Usaha pemerintah untuk menanggulangi masalah ini juga tidak begitu baik. Aparat keamanan selaku penengah justru menjadi ancaman baru bagi kedua belah pihak. Tindakan polisi dan TNI yang semena-mena dan melanggar HAM menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap peran pemerintah dalam menyelesaikan konflik. Misalnya saja ketika aparat keamanan membunuh warga sipil yang tidak terlibat dalam kasus kekerasan di Poso dan yang terbaru adalah di Mesuji. Mungkin kasus konflik di Poso dan Mesuji adalah sepercik kasus dari sekian banyak konflik yang terjadi di bumi Indonesia ini. Pemerintah belum sepenuhnya mengambil peran yang sungguh-sunggu baik dalam mengupayakan penyelesaian konflik. Seharusnya, pemerintah melihat dahulu akar penyebab masalah konflik, setelah itu baru menyusun strategi unutuk menyelesaikan konflik yang berkecamuk.
Konflik di Indonesia telah menimbulkan luka bagi sebagian masyarakat, terutama yang mengalami sendiri konflik tersebut. Ribuan jiwa telah hilang seiring dengan serentetan peristiwa konflik yang terjadi dari tahun ke tahun. Rupanya, pemerintah pun belum terlalu tanggap dengan konflik-konflik yang ada. Penanganan yang dilakukan pemerintah belum memberikan kepuasan yang maksimal dalam masyarakat. Kita bisa mengambil contoh bahwa peran polisi sesunggunya adalah sebagai pengayom masyarakat. Tetapi pandangan masyarakat sendiri terhadap polisi sudah mencerminkan adanya ketidakpercayaan kepada pihak kepolisian, meskipun pandangan ini tidak bisa dipukul rata terhadap semua masyarakat di Indonesia.
Dari waktu ke waktu, konflik dirasakan sebagai suatu yang biasa. Masyarakat sudah terlalu bosan dengan situasi yang terjadi dalam birokrasi pemerintahan ssat ini. Pasti ada saja masalah yang timbul dari para pemimpin bangsa dan aparatnya. Masalah korupsi yang telah menjamur menjadi masaslah yang tak kunjung bisa diselesaikan dengan baik. Rupanya para pemegang kekuasaan tidak bisa lagi dikatakan sebagai pengayom masyarakat yang adil. Mentalitas mereka terbentuk sebagai seorang yang haus akan kekuasaan, sampai-sampai dalam proses penyelesain konflik di elemen masyarakat bawah, beberapa penguasa n egara menggunakan konflik itu sebagai lading yang subur untuk memperkaya diri. Konflik yang terjadi di Indonesia tak lepas dari masalah-masalah yang terjadi dalam pemerintahan. Para penguasa berlomba-lomba untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari konflik yang berkecamuk, seperti yang terjadi dalam kasus kerusuhan di Poso di mana beberapa pejabat terbukti melakukan korupsi atas dana yang seharusnya menjadi hak dari para korban konflik.
Konflik di Indonesia pasti akan terus bermunculan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran dari para pejabat pemerintahan yang sungguh-sungguh menjalankan perannya sebagai wakil rakyat dan penengah di dalamnya. Sudah banyak konflik di Indonesia berjalan tanpa disertai penyelesaian yang baik. Pemerintah harus sungguh-sungguh mengamalkan janjinya. Konflik akan terus bermunculan dan pemerintah diharapkan dapat menyelesaikan konflik-konflik tersebut, tentu dengan bantuan dari masyarakat sendiri. Sudah cukup Indonesia sebagai Negara merdeka mempunyai birokrasi pemerintahan yang buruk dengan segala tindakanya. Sekarang saatnya Indonesia bangkit. Lewat generasi penentu bangsa saat ini, mari merubah Indonesia menjadi negeri yang lebih beradab dan merdeka!



[1] Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Depdiknas.1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia .Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hal 425

0 comments: